Surat Rahasia yang Tidak Pernah Kukirimkan: Tentang Ketergantungan, Pilihan, dan Permainan Digital

Untuk seseorang yang mungkin membaca ini suatu hari nanti,
Aku menulis surat ini bukan untuk meminta maaf atau mencari pembenaran, melainkan untuk jujur kepada diri sendiri—untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Ada banyak hal dalam hidup yang bisa kita kendalikan: pilihan, reaksi, bahkan mimpi.
Tapi ada juga hal yang terasa seperti angin malam—dingin, tak terlihat, tapi tetap mempengaruhi arah langkah kita.
Bagiku, hal itu adalah gambling digital.
Aku Tidak Pernah Bermula untuk Kalah
Ketika aku pertama kali bermain, aku hanya ingin mengisi waktu.
Aku ingin merasakan sedikit kejutan setelah hari-hari panjang yang terasa datar.
Aku ingin merasakan sensasi “mungkin hari ini akan berbeda”.
Dan anehnya, gambling memberikan harapan itu.
Harapan kecil, sekilas, seperti lampu yang berkedip pelan di kegelapan kamar.
Awalnya menyenangkan.
Awalnya sederhana.
Aku tidak tahu kapan tepatnya permainan itu berubah dari hiburan menjadi rutinitas.
Dari rutinitas menjadi ketergantungan halus.
Dari ketergantungan menjadi sesuatu yang kupikir bisa aku kendalikan—padahal tidak.
Ada Keheningan dalam Setiap Spin
Aku pernah membaca bahwa manusia tidak kecanduan kemenangan.
Manusia kecanduan ketidakpastian.
Setiap kali aku menekan tombol spin, ada detik kecil di mana dunia berhenti.
Hanya aku, layar, dan kemungkinan.
Kemungkinan itulah yang membuatku tetap duduk, bahkan ketika logika berkata berhenti.
Kadang aku menang—dan itu seperti dunia kembali memberi pelukan kecil.
Kadang aku kalah—dan itu seperti dunia memberi pelajaran yang tidak kuminta.
Aku tahu konsep volatilitas, aku tahu RTP, aku tahu ritme permainan.
Aku membaca artikel, forum, bahkan referensi terpercaya seperti m88 mobile agar tetap aman.
Tapi pada akhirnya, yang paling sulit dikendalikan bukan gamenya.
Yang sulit dikendalikan adalah diriku sendiri.
Aku Selalu Berencana Berhenti Besok
Besok adalah hari yang tidak pernah datang.
Aku selalu merasa besok aku akan lebih kuat.
Besok aku akan lebih bijak.
Besok aku akan berhenti.
Tapi saat besok tiba, ada satu alasan kecil yang membuatku kembali membuka game:
“Hanya 10 menit.”
“Hanya satu spin.”
“Hanya mencoba keberuntungan.”
Alasan kecil selalu menang melawan tekad besar.
Seperti bisikan lembut yang tidak ingin kita dengarkan… tapi kita dengar juga.
Pada Malam Tertentu, Aku Menang Banyak
Aku ingat malam itu.
Animasi pecah seperti kembang api digital.
Ritme permainan terasa berpihak kepadaku.
Untuk sesaat, aku merasa menguasai dunia.
Aku merasa aku yang pintar.
Bukan keberuntungan.
Bukan sistem.
Dan mungkin itulah kekalahan sebenarnya—bukan saat saldo habis, tetapi saat kita lupa bahwa keberuntungan tidak pernah dimiliki, hanya dipinjam.
Kemenanganku malam itu membuatku kembali besoknya, dan besoknya lagi.
Siklusnya sempurna.
Aku hampir tidak sadar aku sedang berputar dalam lingkaran.
Hingga Suatu Hari, Aku Benar-Benar Berhenti
Bukan karena kalah.
Bukan karena takut.
Tapi karena aku duduk di depan layar dan tidak merasakan apa-apa lagi.
Tidak ada tegang, tidak ada senang, tidak ada cemas.
Hanya hampa.
Saat itulah aku sadar:
Aku tidak sedang bermain lagi.
Aku hanya… mengulang.
Dan hidup bukan tentang mengulang.
Hidup tentang bergerak.
Aku mematikan layar untuk pertama kalinya tanpa janji “besok main lagi”.
Jika Kau Membaca Ini…
Entah kau seorang pemain, seorang teman, atau seseorang yang tidak sengaja menemukan surat ini… aku ingin kau tahu sesuatu:
Gambling bukan musuh.
Ia hanya tempat.
Tempat untuk merasakan sesuatu yang tidak kita dapat di dunia nyata.
Tempat yang bisa menjadi cermin atau labirin.
Yang menentukan bukan gamenya.
Yang menentukan adalah siapa kita saat duduk di depan layar.
Aku bukan benci gambling.
Aku hanya belajar memisahkan dunia digital dari dunia batinku.
Dan jika pemain lain bisa belajar itu lebih cepat dariku, mungkin dunia akan lebih tenang.
Terima kasih telah membaca surat yang tidak pernah kukirimkan ini.